wah wah ..
pasti dari judulnya saja yang membaca sudah kaget ..
yap !!!!
itu memang benar adanya ..
kenapa bisa begitu , karena sebenarnya PR matematika seharusnya di kumpulkan sebelum jam 7 , tapi karena yang mengkoordinator mengumpulkan ketika bel berbunyi , maka tidak di terima lagi oleh Bu Novi selaku guru matematika di kelas X.e
tapi tidak sepenuhnya salah koordinator karena Bu Novi mengatakan mengapa anak-anak kelas X.e tidak mengumpulkan sendiri-sendiri ??
kami sekelas tidak tahu .. karena biasanya PR itu di kumpulkan hanya oleh satu orang yaitu yang mengkoordinir ..
tapi yaa sudah , kami sekelas tidak menyalahkan siapa-siapa dalam hai ini ..
dan Alhasil, kami sekelas mendapat nilai NOL dalam nilai tugas matematika ..
dan selain itu , kami juga di nilai 'jelek' dalam soal sikap ..
yaa , kami hanya dapat berharap semoga dalam kesempatan lain , kami dapat memperbaikinya ..
Amiin .
Thursday, 11 October 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
12 comments:
Saya punya pengalaman dulu waktu kelas 1 di SMAN4. Guru Matematika memberikan tugas (PR), yang sudah saya selesaikan. Kemudian dipinjam oleh teman semeja saya (teman sebelah saya), untuk dicontek (!!). Esok harinya kawan saya itu nggak masuk, padahal harus dikumpulkan. Ternyata kawan saya itu kehujanan, katanya, dan katanya pula, disuruh pulang di gerbang sekolah (duh..., kesalnya....!).
Jadi kejadian nilai Matematika sekelas di kelas X-E ini (menurut cerita Diaa), TIDAK BOLEH terjadi lagi...! Ambil tindakan, yaitu jangan dikoordinir lagi pengumpulan tugas-tugas yg diberikan. Langsung serahkan saja kpd guru bersangkutan.
Selain itu, tolong konsultasikan dgn bu Ningrum, agar koordinator yg kawan kalian itu, tidak merugikan kawan-kawan lainnya ....
Demikian tanggapan dari saya...
Trims,
Budi Aditia.
Identifikasi masalah : tidak semuanya kesalahan sang kolektor soal. Dimanapun tempatnya, guru adalah presiden berkuasa penuh di dalam kelas. Jadi seluruh kejadian yg ada dalam kelas berada dalam kualitas kontrol dan tanggungjawabnya.
Konstrain : sampai saat ini saya or kita tak pernah paham secara detail psikologis maupun akademis, Who is she exactly ?
Solusi alternatif: sederhana aja, ajak beliau secara sopan dan terhormat tuk acara makan bersama or berdua (kalau bisa sih, petinggi HIMALS 4 yg lakukan). Kemudian diselingi dengan diskusi serius tapi santai berkaitan dengan dunia pendidikan secara umum dan manajemen kelas secara khsusus. Isy Allah ada perubahan, apalagi usianya masih cukup muda. Istilah kate, belom begito alot, masih fleksibel euy. Selamat mencoba...! Bismillaah.
Pengamat pendidikan,
Emirul Bahar
Satu petuah penting yg pernah diberikan oleh Pak Is, yaitu siswa harus mengenali karakter si guru. Shg siswa dapat meng-adjust diri masing-masing kepada kemauan si guru. Artinya si guru tidak dituntut harus mau mengikuti kemauan murid. Juga kecil kemungkinannya siswa dpt minta mengganti sosok si guru itu oleh sosok guru lain yang bisa "menyenangkan" siswa.
Ada kemungkinan, si guru pernah dibuat marah atau kesal oleh siswa, shg siswa harus mengetahui letak kesalahannya. Anak-anak perlu mencari tahu mengapa si guru menilai "sikap para siswa buruk" kepadanya. Namun cukup mengherankan juga jika karena seorang murid membuat kesal si guru, maka mengapa si guru men-generalisasikan kesimpulan demikian.
Masalah ini mirip dgn apa yg terjadi baru-baru ini, yaitu antara anak-anak asuh dan Vivid (Aneka Yess), tgl 4 Oktober 2007 yg lalu. Vivid tidak mempermasalahkan jika anak-anak tidak dapat hadir dalam workshop POPAnimation di Aneka Yess; tetapi yg disesalkan adalah anak-anak tidak memberitahukan kpd Aneka Yess bhw anak-anak tidak dapat hadir..., shg kalau diberitahbukan kpd Aneka Yess maka jatah anak-anak SMAN4 dpt diberikan kpd siswa-siswi SMA lain agar tidk mubazir.
Adanya koordinator, sebenarnya melatih siswa dlm hal leadership. Dlm leadership ini ia dituntut dpt 'membaca situasi' dan berinisiatif atas hal-hal yang menjadi tanggungjawabnya. Melatih pula bagaimana membuat perencanaan kecil, misal jika sampai jam 6:45 ada siswa yg belum mengumpulkan tugas, maka apa yg harus dilakukan (apakah melapor kpd si guru, ataukah kumpulkan saja tugas dari siswa apa adanya...?). Jadi melatih bagaimana berkomunikasi yang baik. Mungkin faktor komunikasi dari siswa yang kurang, shg si guru menilai siswa kurang baik sikapnya. Artinya dalam hal komunikasi ini, jika terjadi sesuatu, maka segeralah siswa berbicara kpd si guru langsung, jangan menunggu si guru bereaksi dahulu; Siswa dituntut proaktif dalam hal ini; Buat lah plan-A, plan-B.
Jadi tanggung jawab utama mengenai pengumpulan tugas ini sebenarnya ada di tangan siswa sendiri.
Jika mau negosiasi dgn si guru, silakan itu dilakukan para siswa kelas X-E agar si guru mau "cair" dan memberikan kesempatan kpd para siswa utk mendapat tugas sekali lagi dan mendapat nilai yang baik.
Tetapi, konsultasi dgn bu Ningrum (guru BK) tetap harus dilakukan, agar guru BK dapat 'berfungsi'; apalagi guru BK mengetahui lebih mendalam situasi di sekolah. Dan silakan diskusi pada kakak kelas di kelas XI, mengenai bu Novi ini.
Juga, HIMALS4 terbatas akses & wewenangnya kpd guru. HIMALS4 hanya punya wewenang akses kpd KepSek. Ini yg patut dipahami, agar jangan nantinya ada misunderstanding antara HIMALS4 dan guru.
Perkecualian, jika alumni itu adalah anggota Komite Sekolah, maka ia punya wewenang lebih besar dan akses yg lebih luas kpd para guru.
Demikian tambahan dari saya, semoga dpt menjadi referensi bagi Diaa dan kawan-kawan.
NB: mengenai bu Novi, kabar dari temannya sendiri bhw ia menikah dgn dosennya di Universitas (UNJ).
Salam,
BdA
Guru kayak gini cuma butuh power aja, dia ingin agar kalian takut sama dia, dia musti berjuang untuk dapat pengakuan dengan cara yang menyebalkan, kasihaaan.
Membaca tulisan siswa ttg bu Novi, mgkn saya ada sedikit komentar dan pengalaman.
Berdasarkan pengalaman kalo melihat yang dihukum sekelas biasanya tidak akan merugikan siswa secara perorangan. Jadi jangan terlalu dikhawatirkan.
Dan saya juga akan mengomentari ttg hukuman yang diberikan ibu Novi ini, karena saya sangat kenal dengan ibu Novi yang menjadi guru matematika di SMA4 itu. Komentar saya, hukuman ini diberikan karena memang siswa kelas tersebut melanggar perjanjian dan sepertinya mmg kelas ini agak dikenal kelas badung atau kurang tertib.Buktinya siswa yang menulis juga 'pasrah' menerima, walau mgkn yang menulis ini siswa pintar, yang pasrah mendapat hukuman karena kelalaian teman sekelasnya yang jd koordinator atau kelalaian teman2nya yang lain yang lambat mengumpulkan, shg lebih dari jam 7 terkumpulnya.
Mas Budi, hal ini sebenarnya hal yang biasa terjadi di dunia sekolah, hanya karena siswa tersebut berani untuk mengemukakan, maka sepertinya hal ini menjadi agak 'tidak biasa'.
Demikian ya, ... komentar saya ttg kejadian ini, mudah-mudahan puas.
Wassalam,
Pinta
(Alumni'83 SMAN4 - Dosen UNJ)
Oh, kalau hukuman ini tidak merugikan perorangan, kita tidak perlu ributkan lagi. Masalahnya kalau para donatur mendapatkan laporan tentang angka 0 ini yang mempengaruhi angka rata2, kemungkinan mereka akan protes keras dan mempertanyakan kinerja anak2 asuh itu.
Apakah tidak ada cara lain yang lebih mendidik? Pak Fadjar kayaknya beda ya!
Memang spt yg saya bilang, aneh aja kalau karena seorang murid membuat kesal si guru, maka mengapa si guru mengeneralisasikan kesimpulan demikian (kok satu kelas dihukum utk dapat nilai 0 (nol) semua)???
Masalah seperti ini sebetulnya adalah permasalahan yg sering terjadi dan bukan suatu keanehan bila seorang guru menghukum muridnya karena dirasa murid2nya tidak mematuhi komitmen yg sudah dibuat ...
Namun menjadi tidak biasa, bila masalah seperti ini menjadi sering terjadi, misalnya guru Math tsb memberi nilai 0(nol) kepada beberapa kelas, atau justru terbalik, kelas X.E sering dianugerahi nilai 0(nol) dari guru2 di SMA4 ...
So, menurut saya, kita tidak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan mengenai masalah ini, .... kemungkinan ini hanya masalah komunikasi diantara guru dan murid saja ...
Untuk ke depannya, siswa2 diharap agar lebih proaktif, karena sikap dan sifat dari tiap2 guru adalah berbeda sehingga ada baiknya siswa juga mengetahui komitmen seperti apa yg telah dibuat agar tidak salah janji lagi seperti sekarang ini ...
Salam,
Rina Asmara
Anak-anak OTA yang baik, belajar itu bukan hanya sekedar nilai saja.
Dalam teori pemebelajaran (termasuk mata pelajaran matematika) kalian tidak hanya dinilai dari aspek kognitif (baca :pengetahuan tentang matematika)tetapi jika aspek sikap (afektif) yang didalamnya memuat banyak faktor sikap seperti : kedisiplinan, kemandirian, keperdualian terhadap lingkungan dll.
Dalam kasus kalian dengan guru matematika mestinya sebagai anak dengan kemampuan lebih dari anak yang lain harusnya bertanya dengan jelas kepada gurumu (sebagai bentuk kepedulian) sehingga jika jelas apa yang kalian pahami maka kejadian ini tidak akan terjadi sebab saya yakin bu novi mengajarkan kepada kalian selain untuk pandai matematika juga mengajarkan kedisiplinan dan kedispilinan itu penting untuk anak yang ingin memiliki nilai yang baik.
Saya setuju dengan komentar kak budi aditia, bahwa kalian harus memahami karakter guru kalian sebab kalian yang sangat memerlukan ilmu yang dikuasai guru tersebut dan pemahaman ini sangat penting even nanti kami ada di dunia kerja.
Jadi jangan berkecil hati pengalaman adalah pelajaran berharga yang tidak diajarkan dalam pendidikan formal maka jadikan pengalaman tersebut untuk lebih mendewasakan kalian bukan untuk mencari keslahan orang lain
Kalau boleh saya berpendapat, ini adalah salah satu cara guru untuk menerapkan disiplin.
Nobody's fault!
Murid dan guru semuanya punya masalah, sama halnya ketika suami punya masalah di kantor eh marahnya di rumah.
Jadi sebagai murid harus lihat mood guru. Guru adalah orang tua di sekolah, namun sebagai orang tua jangan otoriter.
Hasil riset ahli, bahwa orang tua yang otoriter akan menghasilkan anak yang suka berontak.
Di Yunani, guru lebih demokratis, malah cenderung bersikap sebagai teman daripada sebagai guru.
Aduh..setelah saya mengetahui kejadian ini, saya sangat prihatin. Tidakkah Guru tsb bisa bersikap lebih arif?.. Posisikanlah diri sebagai guru (tidak hanya sebagai pengajar,tetapi juga pendidik), sebagai ortu, & juga sebagai 'teman' akrab buat mereka. InsyaALLAH proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan 'manisnya' & meninggalkan kesan baik pula, baik untuk sang Guru maupun para muridnya. Kini sudah tidak jamannya mengajar dengan gaya 'Guru yang paling benar & selalu benar', guru juga manusia..(syair lagu), jadi kalau pun sudah salah..ok, perbaiki.. Dan bagi murid-murid (anak-anakku semua) tetaplah jadi murid/anak-anak yang baik, tetap bersikap baik dan hormat kepada semua guru, sambil tetap mencoba menolak 'ketidakenakan' tersebut. Ok..kami alumni mendukung adik-adik semua. Tetap tekun & semangat!!
Terima kasih untuk Orang Tua Asuh yang sudah mau memberikan pendapatnya. Mungkin memang benar apa yang disampaikan Bu Pinta bahwa kami belum mengenal seperti apa Bu Novi sebenarnya. Dan pengalaman ini akan menjadi pelajaran bagi kami dan teman-teman semua .
Post a Comment